Langsung ke konten utama

Postingan

Chapter 1 - Dongan

Matahari Jakarta sudah mulai memanaskan jalanan. Asap kendaraan bercampur dengan debu dan aroma makanan dari warung-warung tenda di tepi jalan. Hiruk pikuk kota ini selalu mengiringi langkah Dongan, pemuda 25 tahun yang merantau dari Medan dengan mimpi sederhana; mimpi untuk bisa membahagiakan keluarganya di kampung, meskipun seringkali tergerus kerasnya hidup di ibu kota. Keseharian Dongan berdiri di pinggir pasar besar, menunggu panggilan kerja sebagai kuli panggul. Dengan mengenakan kaos lusuh dan celana panjang yang warnanya mulai pudar, ia melihat para pedagang yang mulai menata barang dagangan mereka. Suara teriakan pedagang, dentingan roda gerobak, dan hiruk pikuk pembeli yang semakin ramai membentuk simfoni kehidupan yang sudah sangat dikenal oleh Dongan. Setiap kali ada panggilan untuk mengangkat karung-karung beras atau tumpukan sayuran, ia akan bergegas, seakan tak ingin membiarkan kesempatan untuk mendapatkan sedikit tambahan rezeki lolos begitu saja. Hari ini terasa lebih ...
Postingan terbaru

Dan Inipun Bagiku Sudah Cukup

 Aku juga tidak tahu kapan semua ini dimulai. Mungkin saat aku mulai tersenyum lebih sering, mungkin saat aku berusaha menjadi sosok yang dapat diandalkan. Yang jelas, aku tahu bahwa dunia ini tak pernah berhenti berputar, tak peduli apakah aku sedang berada di puncak kebahagiaan atau tenggelam dalam kelelahan. Dan bukankah itu sesuatu yang indah? Bahwa hidup tak pernah diam, bahwa setiap dari kita sedang berjuang, bahwa tak ada yang benar-benar sendirian dalam menghadapi badai? Ada kalanya aku merasa lelah, merasa seolah beban di pundakku terlalu berat untuk dipikul. Tapi kemudian aku sadar, betapa tidak sendirinya perasaan ini. Setiap orang membawa beban, setiap orang memiliki luka. Bukankah kita semua berjuang di medan yang berbeda, namun pada hakikatnya tetap sama? Setiap tawa, setiap senyum yang kubagikan, bukanlah karena aku ingin menyembunyikan luka, tapi karena aku ingin menjadi bagian dari kekuatan kecil yang menyatukan kita semua. Kadang, kebahagiaan bukanlah soal tiadany...

Tak Apa, Kau Bukan Aku

Aku tidak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai. Mungkin saat aku mulai tersenyum lebih sering, memastikan dunia di sekitarku baik-baik saja. Atau mungkin ketika aku belajar untuk menahan tangis, menyembunyikan lelah di balik tawa, dan menjadi tempat bersandar bagi semua orang yang datang. Mereka bilang aku kuat, tangguh, dan selalu bisa diandalkan—pujian yang terdengar seperti beban yang tak henti-hentinya menekan pundakku. Dari luar, hidupku tampak mudah. “Kamu beruntung, semuanya terlihat berjalan lancar,” kata mereka sambil tersenyum puas, seakan-akan mengetahui isi hatiku yang sebenarnya. Padahal, kenyataan yang kurasakan sungguh jauh dari itu. Ada jurang dalam di dalam diri yang tak pernah bisa kujelaskan pada siapa pun. Tapi aku tetap tersenyum, mengangguk, dan memastikan mereka tetap merasa nyaman berada di dekatku. Setiap pagi, aku bangun dengan rutinitas yang sama—menyiapkan senyumku di depan cermin. “Hari ini juga akan baik-baik saja,” bisikku pada bayanganku sendiri. Lalu a...

Apakah aku sudah cukup?

Apakah aku sudah cukup? Bertanya dalam hening, saat dunia terus bergemuruh, Berjalan di tengah hiruk pikuk, suara-suara tak berwajah, Menyapa dengan ambisi yang tak pernah terpuaskan. Tapi, apakah langkahku ini sepadan dengan lelah yang kujalani? Atau mungkin aku hanya berlari tanpa arah, tanpa alasan yang pasti? Aku sering merasa terjebak, Mencari jalan keluar, namun tak pernah sungguh-sungguh ingin lepas. Apakah aku sengaja membangun tembok di sekelilingku, Atau mungkin ketakutanku pada asingnya dunia luar, Membuatku memilih kurungan yang terasa aman, meski sempit dan gelap? Jika aku mati sekarang, Akankah aku menyesal atas sisa-sisa hari yang belum kujemput? Apakah aku akan merasa rugi, Atau mungkin merasa lega, bahwa pertanyaan ini akhirnya tak perlu terjawab? Apakah impian yang kuabaikan akan memelukku dalam penyesalan, Atau justru membebaskan aku dari harapan yang terlalu tinggi? Dan jika orang yang kucintai meninggalkanku, Akankah aku berubah? Atau justru terpuruk lebih dalam da...

Busuk Itu Ternyata Tidak Masalah

Bisa bisanya aku mengeluh, dengan megahnya hari yang kumiliki, aku hanya berharap lebih pada orang orang diseitarku yang tentunya terus akan mengecewakan dan membuat diri trauma untuk berharap. Terlebih lagi dengan keadaan orang lain yang sebenarnya tidak lebih baik dariku, entah kenapa aku tetap memiliki hasrat untuk berada jauh diatas orang lain. Menutup diri dari orang lain membuat ku tidak memliki kendali terhadap kemajuan yang telah ku miliki. Aku sering berharap ketika aku membuka mata, tiba tiba semua yang kuharapkan akan terwujud tanpa ada usaha. Tentu saja itu merupakan wujud kebodohan dan kemalasan, dan sepertinya kamu juga memiliki nya. Lihat kan, kamu tidak seburuk itu. Banyak keburukan ku yang juga kamu miliki atau sebaliknya.  Lebih lagi pada bau busuk yang terus menempel pada hidung ku. Aku berfikir apakah tindakan ku seburuk itu sehingga menghasilkan bau busuk separah ini. Setelah aku menarik diri lebih jauh lagi, aku sadar bahwa lingkungan ku juga busuk. Mereka dan...

Yah, Aku Kecewa

Jika kecewa adalah rasa yang kau rasa sekarang kemungkinan besar kau adalah orang baik yang jiwa nya merasa tidak sesuai dengan harap keadaan akan membaik segera baik dengan campur tangan mu atau kau abaikan Jika saja kau bisa berlari sudah kau lakukan  tapi karena kemungkinan kau orang baik kau bertahan  entah karena apa bisa saja kau takut rasa kecewa mu dirasakan orang lain  yang kau tidak ingin dia terdampak lihat kan kau masih peduli tapi sering sekali kau lupa untuk peduli pada dirimu sendiri sering bertahan bukan lah pilihan yang baik tapi tetap kau lakukan demi harap yang entah akan terwujud  atau justru rasa kecewa lain yang kau dapat rasa kecewa yang mungkin dengan persiapan pun kau juga masih goyah menghadapi nya Ingin sekali kau membalas orang lain bertindak sesuai dengan keadaan hati tanpa perlu berpura  tidak dengan sandiwara biarkan kita menanggung akibat tanpa ada bendungan perasaan belalu saja begitu =Kecewa=

Hidup adalah pilihan atau kamu akan di pilih

 Dalam keharusan yang sudah punya alur, kita adalah orang yang mengatur apa yang terjadi dengan kita. Kita berlaku sebagai pemegang kendali atas apa yang terjadi dan apa yang harusnya tidak terjadi dengan kita. Namun apakan demikian,  Kita sering terjebak dengan pilihan yang sama sekali tidak kita sukai. Kita berada dalam lembah keputusasaan karena semua pilihan akan menghasilkan kejadian yang memang tidak kita harapkan terjadi. Kita menjadi variabel yang di pilih dan kita hanya menjadi alat. Tidak semua orang istimewa, atau semua orang adalah tidak istimewa dengan mejadi istimewa dalam ke-bisaan nya masing -masing, mereka adalah jalan terbaik dalam keadaan terburuk dan akan menjadi solusi yang sangat masuk akal. Tapi tetap saja kamu adalah pilihan, bukan yang memilih. Dan menurutku hal itu tentu tidak akan menyenangkan mengingat bahwa kita adalah alfa dari kehidupan kita masing masing, dan kita adalah raja dari kerajaan semu realita yang kita bangun setiap hari.