Dalam keharusan yang sudah punya alur, kita adalah orang yang mengatur apa yang terjadi dengan kita. Kita berlaku sebagai pemegang kendali atas apa yang terjadi dan apa yang harusnya tidak terjadi dengan kita. Namun apakan demikian,
Kita sering terjebak dengan pilihan yang sama sekali tidak kita sukai. Kita berada dalam lembah keputusasaan karena semua pilihan akan menghasilkan kejadian yang memang tidak kita harapkan terjadi. Kita menjadi variabel yang di pilih dan kita hanya menjadi alat. Tidak semua orang istimewa, atau semua orang adalah tidak istimewa dengan mejadi istimewa dalam ke-bisaan nya masing -masing, mereka adalah jalan terbaik dalam keadaan terburuk dan akan menjadi solusi yang sangat masuk akal. Tapi tetap saja kamu adalah pilihan, bukan yang memilih. Dan menurutku hal itu tentu tidak akan menyenangkan mengingat bahwa kita adalah alfa dari kehidupan kita masing masing, dan kita adalah raja dari kerajaan semu realita yang kita bangun setiap hari.
Matahari Jakarta sudah mulai memanaskan jalanan. Asap kendaraan bercampur dengan debu dan aroma makanan dari warung-warung tenda di tepi jalan. Hiruk pikuk kota ini selalu mengiringi langkah Dongan, pemuda 25 tahun yang merantau dari Medan dengan mimpi sederhana; mimpi untuk bisa membahagiakan keluarganya di kampung, meskipun seringkali tergerus kerasnya hidup di ibu kota. Keseharian Dongan berdiri di pinggir pasar besar, menunggu panggilan kerja sebagai kuli panggul. Dengan mengenakan kaos lusuh dan celana panjang yang warnanya mulai pudar, ia melihat para pedagang yang mulai menata barang dagangan mereka. Suara teriakan pedagang, dentingan roda gerobak, dan hiruk pikuk pembeli yang semakin ramai membentuk simfoni kehidupan yang sudah sangat dikenal oleh Dongan. Setiap kali ada panggilan untuk mengangkat karung-karung beras atau tumpukan sayuran, ia akan bergegas, seakan tak ingin membiarkan kesempatan untuk mendapatkan sedikit tambahan rezeki lolos begitu saja. Hari ini terasa lebih ...
Komentar
Posting Komentar