Langsung ke konten utama

Chapter 1 - Dongan

Matahari Jakarta sudah mulai memanaskan jalanan. Asap kendaraan bercampur dengan debu dan aroma makanan dari warung-warung tenda di tepi jalan. Hiruk pikuk kota ini selalu mengiringi langkah Dongan, pemuda 25 tahun yang merantau dari Medan dengan mimpi sederhana; mimpi untuk bisa membahagiakan keluarganya di kampung, meskipun seringkali tergerus kerasnya hidup di ibu kota.

Keseharian Dongan berdiri di pinggir pasar besar, menunggu panggilan kerja sebagai kuli panggul. Dengan mengenakan kaos lusuh dan celana panjang yang warnanya mulai pudar, ia melihat para pedagang yang mulai menata barang dagangan mereka. Suara teriakan pedagang, dentingan roda gerobak, dan hiruk pikuk pembeli yang semakin ramai membentuk simfoni kehidupan yang sudah sangat dikenal oleh Dongan. Setiap kali ada panggilan untuk mengangkat karung-karung beras atau tumpukan sayuran, ia akan bergegas, seakan tak ingin membiarkan kesempatan untuk mendapatkan sedikit tambahan rezeki lolos begitu saja.

Hari ini terasa lebih penting daripada biasanya. Dongan memiliki tujuan jelas yang harus dicapai; ia harus mengumpulkan uang sebesar 200 ribu dalam dua hari. Mungkin terlihat kecil bagi mu, tetapi baginya, itu adalah perbedaan antara melihat adiknya, Tere, bahagia atau tidak. Tere, gadis berumur 16 tahun yang masih tinggal di Medan, sangat ingin pergi ke pantai bersama tetangganya. Jika jadi ke pantai, ini akan menjadi pertama kali bagi Tere. Alasan kenapa Tere harus pergi ke pantai begitu penting bagi Dongan, karena seumur hidupnya Tere tidak pernah meminta apapun. Bahkan informasi bahwa Tere sangat ingin ke pantai bersama tetangganya didapatkan dari teman perempuan Tere yang mengunggah status di WhatsApp. Dongan tahu bahwa jika ia menanyakan langsung ke Tere apakah dia ingin pergi ke pantai, Tere pasti akan menjawab tidak dengan banyak alasan. Jadi ini adalah kesempatan emas bagi Dongan untuk bisa membahagiakan Tere. Dongan tahu bahwa senyum adiknya lebih berharga dari apapun. Pantai adalah kebebasan bagi Tere, tempat di mana ia bisa melupakan kesulitan hidup sejenak dan hanya menjadi seorang gadis remaja yang penuh tawa.

Ketika matahari mencapai puncaknya, Dongan selesai mengangkat beberapa karung beras, ia menerima uang yang terasa begitu berharga. Ia menghitungnya cepat, satu lembar lima puluh ribuan dan beberapa lembar ribuan. Belum cukup, tetapi setidaknya langkah pertama sudah ia jalani. Ia menghapus keringat yang mengalir di dahinya, lalu duduk sebentar di pinggir trotoar, mengatur nafas sembari menatap langit Jakarta yang biru, meski terhalang gedung-gedung tinggi.

Saat senja mulai tiba, Dongan berjalan menuju rumah kos-kosan sempitnya yang terletak di gang kecil. Kos Dongan berada di gang sempit, dengan fasilitas seadanya. Sementara itu, Utama tinggal di kos yang berjarak sekitar 2 KM dari kos Dongan, dengan fasilitas yang lebih baik dan nyaman. Dongan pergi ke kos Utama untuk meminjam motor Beat milik temannya itu. Utama adalah anak Jakarta dengan kehidupan yang jauh lebih stabil dibandingkan Dongan. Ia punya pekerjaan tetap di kantor logistik dan tinggal di kos dengan fasilitas yang lebih baik dibandingkan kos Dongan. Ketika Dongan mengetuk pintu kamar Utama, ia sudah tahu apa yang akan diminta. Motor Beat milik Utama selalu menjadi andalan Dongan untuk mencari nafkah tambahan di malam hari.

“Pinjam motornya lagi, Ma? Aku harus menambah uang buat Tere, supaya cukup untuk 200 ribu,” kata Dongan sambil tersenyum kecil, seolah-olah mencoba menyembunyikan beban berat yang ia pikul.
Utama hanya mengangguk sambil melemparkan kunci motor ke arah Dongan. "Hati-hati, Ngan. Jalanan malam makin gak karuan sekarang. Tapi aku ngerti kok, buat Tere kan?" jawab Utama, dengan senyum simpul yang tulus. Mereka berdua sudah saling memahami tanpa banyak bicara.

Dongan mengenakan jaket tipisnya dan memasang helm. Dengan motor Beat di bawahnya, ia seakan merasa memiliki kendali atas hidupnya, meski hanya sebentar. Malam itu, ia menelusuri jalanan Jakarta, bergabung dengan ratusan driver lain yang mencari penumpang. Ia membuka aplikasi Maxim, berharap ada banyak orderan yang bisa ia terima. Setiap notifikasi yang muncul membuat jantungnya berdebar, seolah-olah ada harapan kecil yang disematkan di setiap perjalanan.

Dongan selalu berusaha menjadi driver yang ramah dan baik. Setiap penumpang yang naik, ia menyapa dengan senyum tulus, membuka percakapan ringan tentang cuaca, kondisi lalu lintas, atau bahkan cerita-cerita tentang kehidupan di Jakarta. Salah satu penumpangnya malam itu adalah seorang wanita paruh baya yang tampak lelah setelah seharian bekerja. Dongan menyapanya dengan hangat, "Selamat malam, Bu. Capek ya seharian kerja? Semoga bisa istirahat nanti di rumah."

Wanita itu tersenyum, merespon hangat. Mereka pun mengobrol sepanjang perjalanan, tentang betapa padatnya Jakarta, tentang keluarga, dan tentang kehidupan. Dongan mendengarkan dengan penuh perhatian, terkadang memberikan komentar yang membuat penumpangnya tertawa kecil. Ketika mereka tiba di tujuan, wanita itu berkata, "Kamu anaknya baik ya, Dongan. Saya jarang ketemu driver yang ramah seperti kamu." Ia lalu memberikan uang lebih dari tarif yang tertera, mengatakan, "Ini untuk kamu, semoga berkah ya."

Dongan terkejut dan terharu. Ia menerima uang itu dengan penuh syukur, dan malam itu ia berhasil mengumpulkan 130 ribu dari Maxim, berkat tips dari penumpang baik hati tersebut. Sekarang, total uangnya sudah mencapai 200 ribu. Ia tidak bisa menahan senyumnya saat menyadari bahwa misi untuk membahagiakan Tere sudah tercapai. Tanpa membuang waktu, Dongan segera memutar motor Beat itu kembali menuju tempat Utama. Sesampainya di sana, ia mengembalikan motor dengan penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih, Ma. Motor ini benar-benar jadi penyelamat," ujar Dongan sambil menyerahkan kunci motor.

Utama mengangguk, "Gimana, sudah cukup buat Tere?"

"Sudah, ini ada 200 ribu. Tolong ya, Ma, transfer ke nomor rekening teman Tere, biar besok bisa langsung diambil dan dikasih ke Tere," kata Dongan sambil menyerahkan uang yang berhasil ia kumpulkan.

Utama tersenyum dan mengangguk, "Siap. Besok pagi langsung aku transfer. Tere pasti senang banget."

Dongan menghela napas lega. Ia merasa beban yang dipikulnya hari ini akhirnya terbayar lunas. Setidaknya, Tere akan bisa menikmati hari di pantai bersama teman-temannya, dan itu sudah cukup membuat semua lelahnya hilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MULAI AJA DULU

Nulis sepertinya adalah hal yang emang passion aku selama ini. Banyak hal yang ingin aku share dalam kehidupan yang aku jalani sehari hari. Mungkinkah ini pertanda bahwa aku adalah penerus dari penulis legendaris. Penulis legendaris apanya? Aku aja ga ada kenal penulis legendaris. Aku cuma suka sharing karena aku merasa jangan sampai kesalahan kesalahan yang aku buat kamu harus ulangi lagi.  --- Pelajaran yang aku dapat hari ini adalah jangan menahan diri. Kali ini aku akan coba untuk mulai menulis sedikit demi sedikit setiap hari. Menariknya ketika aku mulai menulis aku nggak tahu apa yang harus aku tulis. Oke karena prinsipnya adalah kita akan mulai terlebih dahulu sehingga aku akan terbiasa untuk menulis, maka aku akan menceritakan apa rencana aku untuk besok. Mulai saat ini aku akan berusaha untuk melawan mood swing aku sehingga aku memiliki kendali penuh terhadap apa yang ingin aku lakukan. Dimulai dengan trik sederhana besok pagi aku akan memulai untuk lari pagi dan mudah-mud...

Solo (Alam semsesta dan ciptaan nya)

Untuk kali ini aku menyebut namaku solo, sebuah entitas yang akan menceritakan banyak kisah menarik dengan sudut pandangku. Semua yang akan kamu ketahui setelah ini tidak akan memiliki makna apapun selain cerita, karena dalam perjalan ku aku secara sempurna menghapus keberadaan ku yang tentunya akan menjadi pertanyaan besar bagi kalian manusia tentang apa yang menjadi tujuan kalian sebenarnya. *SUDUT PANDANG* setelah jutaan atau tidak milyar tahun, aku telah menjalani berbagai fase entitasisme, aku telah menjadi air (bahasa gampangnya dari atom) dan bahkan aku telah menjadi ruang (atau yang kamu kenal dengan kehampaan). Aku adalah pencipta dan aku adalah yang tercipta. Aku menikmati semua fase, pertukaran elektron, getaran atom, meledaknya bintang, perkembangan alam semesta dan semua fenomena yang pernah kamu lihat sedikit banyaklah adalah kegiatan yang aku lakukan untuk mengusir rasa yang kita sebut saja jenuh. Sesuatu yang sangat aneh, yang mulai muncul dan ini adalah hal yang sangat...