Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Chapter 1 - Dongan

Matahari Jakarta sudah mulai memanaskan jalanan. Asap kendaraan bercampur dengan debu dan aroma makanan dari warung-warung tenda di tepi jalan. Hiruk pikuk kota ini selalu mengiringi langkah Dongan, pemuda 25 tahun yang merantau dari Medan dengan mimpi sederhana; mimpi untuk bisa membahagiakan keluarganya di kampung, meskipun seringkali tergerus kerasnya hidup di ibu kota. Keseharian Dongan berdiri di pinggir pasar besar, menunggu panggilan kerja sebagai kuli panggul. Dengan mengenakan kaos lusuh dan celana panjang yang warnanya mulai pudar, ia melihat para pedagang yang mulai menata barang dagangan mereka. Suara teriakan pedagang, dentingan roda gerobak, dan hiruk pikuk pembeli yang semakin ramai membentuk simfoni kehidupan yang sudah sangat dikenal oleh Dongan. Setiap kali ada panggilan untuk mengangkat karung-karung beras atau tumpukan sayuran, ia akan bergegas, seakan tak ingin membiarkan kesempatan untuk mendapatkan sedikit tambahan rezeki lolos begitu saja. Hari ini terasa lebih ...

Dan Inipun Bagiku Sudah Cukup

 Aku juga tidak tahu kapan semua ini dimulai. Mungkin saat aku mulai tersenyum lebih sering, mungkin saat aku berusaha menjadi sosok yang dapat diandalkan. Yang jelas, aku tahu bahwa dunia ini tak pernah berhenti berputar, tak peduli apakah aku sedang berada di puncak kebahagiaan atau tenggelam dalam kelelahan. Dan bukankah itu sesuatu yang indah? Bahwa hidup tak pernah diam, bahwa setiap dari kita sedang berjuang, bahwa tak ada yang benar-benar sendirian dalam menghadapi badai? Ada kalanya aku merasa lelah, merasa seolah beban di pundakku terlalu berat untuk dipikul. Tapi kemudian aku sadar, betapa tidak sendirinya perasaan ini. Setiap orang membawa beban, setiap orang memiliki luka. Bukankah kita semua berjuang di medan yang berbeda, namun pada hakikatnya tetap sama? Setiap tawa, setiap senyum yang kubagikan, bukanlah karena aku ingin menyembunyikan luka, tapi karena aku ingin menjadi bagian dari kekuatan kecil yang menyatukan kita semua. Kadang, kebahagiaan bukanlah soal tiadany...

Tak Apa, Kau Bukan Aku

Aku tidak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai. Mungkin saat aku mulai tersenyum lebih sering, memastikan dunia di sekitarku baik-baik saja. Atau mungkin ketika aku belajar untuk menahan tangis, menyembunyikan lelah di balik tawa, dan menjadi tempat bersandar bagi semua orang yang datang. Mereka bilang aku kuat, tangguh, dan selalu bisa diandalkan—pujian yang terdengar seperti beban yang tak henti-hentinya menekan pundakku. Dari luar, hidupku tampak mudah. “Kamu beruntung, semuanya terlihat berjalan lancar,” kata mereka sambil tersenyum puas, seakan-akan mengetahui isi hatiku yang sebenarnya. Padahal, kenyataan yang kurasakan sungguh jauh dari itu. Ada jurang dalam di dalam diri yang tak pernah bisa kujelaskan pada siapa pun. Tapi aku tetap tersenyum, mengangguk, dan memastikan mereka tetap merasa nyaman berada di dekatku. Setiap pagi, aku bangun dengan rutinitas yang sama—menyiapkan senyumku di depan cermin. “Hari ini juga akan baik-baik saja,” bisikku pada bayanganku sendiri. Lalu a...

Apakah aku sudah cukup?

Apakah aku sudah cukup? Bertanya dalam hening, saat dunia terus bergemuruh, Berjalan di tengah hiruk pikuk, suara-suara tak berwajah, Menyapa dengan ambisi yang tak pernah terpuaskan. Tapi, apakah langkahku ini sepadan dengan lelah yang kujalani? Atau mungkin aku hanya berlari tanpa arah, tanpa alasan yang pasti? Aku sering merasa terjebak, Mencari jalan keluar, namun tak pernah sungguh-sungguh ingin lepas. Apakah aku sengaja membangun tembok di sekelilingku, Atau mungkin ketakutanku pada asingnya dunia luar, Membuatku memilih kurungan yang terasa aman, meski sempit dan gelap? Jika aku mati sekarang, Akankah aku menyesal atas sisa-sisa hari yang belum kujemput? Apakah aku akan merasa rugi, Atau mungkin merasa lega, bahwa pertanyaan ini akhirnya tak perlu terjawab? Apakah impian yang kuabaikan akan memelukku dalam penyesalan, Atau justru membebaskan aku dari harapan yang terlalu tinggi? Dan jika orang yang kucintai meninggalkanku, Akankah aku berubah? Atau justru terpuruk lebih dalam da...