Langsung ke konten utama

Apakah aku sudah cukup?


Apakah aku sudah cukup?
Bertanya dalam hening, saat dunia terus bergemuruh,
Berjalan di tengah hiruk pikuk, suara-suara tak berwajah,
Menyapa dengan ambisi yang tak pernah terpuaskan.
Tapi, apakah langkahku ini sepadan dengan lelah yang kujalani?
Atau mungkin aku hanya berlari tanpa arah, tanpa alasan yang pasti?


Aku sering merasa terjebak,
Mencari jalan keluar, namun tak pernah sungguh-sungguh ingin lepas.
Apakah aku sengaja membangun tembok di sekelilingku,
Atau mungkin ketakutanku pada asingnya dunia luar,
Membuatku memilih kurungan yang terasa aman, meski sempit dan gelap?


Jika aku mati sekarang,
Akankah aku menyesal atas sisa-sisa hari yang belum kujemput?
Apakah aku akan merasa rugi,
Atau mungkin merasa lega, bahwa pertanyaan ini akhirnya tak perlu terjawab?
Apakah impian yang kuabaikan akan memelukku dalam penyesalan,
Atau justru membebaskan aku dari harapan yang terlalu tinggi?


Dan jika orang yang kucintai meninggalkanku,
Akankah aku berubah?
Atau justru terpuruk lebih dalam dalam kesedihan yang tak berujung?
Akankah aku merelakan, atau terus berpegang pada kenangan,
Meski tahu, merelakan seringkali lebih menakutkan daripada kehilangan itu sendiri?


Aku bertanya, berulang-ulang,
Apakah segala yang kulakukan sudah cukup?
Apakah kata-kata yang terucap sudah mengurangi beban dunia,
Atau hanya menambah bising dalam diamku yang panjang?


Aku tak tahu jawabannya,
Tapi setidaknya, di tengah keraguan dan kesedihan ini,
Ada sebersit harapan kecil,
Bahwa mungkin, hanya mungkin,
Aku sedang berjalan menuju 'cukup' itu,
Dengan segala luka, keraguan, dan rasa takut yang menyertainya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 1 - Dongan

Matahari Jakarta sudah mulai memanaskan jalanan. Asap kendaraan bercampur dengan debu dan aroma makanan dari warung-warung tenda di tepi jalan. Hiruk pikuk kota ini selalu mengiringi langkah Dongan, pemuda 25 tahun yang merantau dari Medan dengan mimpi sederhana; mimpi untuk bisa membahagiakan keluarganya di kampung, meskipun seringkali tergerus kerasnya hidup di ibu kota. Keseharian Dongan berdiri di pinggir pasar besar, menunggu panggilan kerja sebagai kuli panggul. Dengan mengenakan kaos lusuh dan celana panjang yang warnanya mulai pudar, ia melihat para pedagang yang mulai menata barang dagangan mereka. Suara teriakan pedagang, dentingan roda gerobak, dan hiruk pikuk pembeli yang semakin ramai membentuk simfoni kehidupan yang sudah sangat dikenal oleh Dongan. Setiap kali ada panggilan untuk mengangkat karung-karung beras atau tumpukan sayuran, ia akan bergegas, seakan tak ingin membiarkan kesempatan untuk mendapatkan sedikit tambahan rezeki lolos begitu saja. Hari ini terasa lebih ...

MULAI AJA DULU

Nulis sepertinya adalah hal yang emang passion aku selama ini. Banyak hal yang ingin aku share dalam kehidupan yang aku jalani sehari hari. Mungkinkah ini pertanda bahwa aku adalah penerus dari penulis legendaris. Penulis legendaris apanya? Aku aja ga ada kenal penulis legendaris. Aku cuma suka sharing karena aku merasa jangan sampai kesalahan kesalahan yang aku buat kamu harus ulangi lagi.  --- Pelajaran yang aku dapat hari ini adalah jangan menahan diri. Kali ini aku akan coba untuk mulai menulis sedikit demi sedikit setiap hari. Menariknya ketika aku mulai menulis aku nggak tahu apa yang harus aku tulis. Oke karena prinsipnya adalah kita akan mulai terlebih dahulu sehingga aku akan terbiasa untuk menulis, maka aku akan menceritakan apa rencana aku untuk besok. Mulai saat ini aku akan berusaha untuk melawan mood swing aku sehingga aku memiliki kendali penuh terhadap apa yang ingin aku lakukan. Dimulai dengan trik sederhana besok pagi aku akan memulai untuk lari pagi dan mudah-mud...

Solo (Alam semsesta dan ciptaan nya)

Untuk kali ini aku menyebut namaku solo, sebuah entitas yang akan menceritakan banyak kisah menarik dengan sudut pandangku. Semua yang akan kamu ketahui setelah ini tidak akan memiliki makna apapun selain cerita, karena dalam perjalan ku aku secara sempurna menghapus keberadaan ku yang tentunya akan menjadi pertanyaan besar bagi kalian manusia tentang apa yang menjadi tujuan kalian sebenarnya. *SUDUT PANDANG* setelah jutaan atau tidak milyar tahun, aku telah menjalani berbagai fase entitasisme, aku telah menjadi air (bahasa gampangnya dari atom) dan bahkan aku telah menjadi ruang (atau yang kamu kenal dengan kehampaan). Aku adalah pencipta dan aku adalah yang tercipta. Aku menikmati semua fase, pertukaran elektron, getaran atom, meledaknya bintang, perkembangan alam semesta dan semua fenomena yang pernah kamu lihat sedikit banyaklah adalah kegiatan yang aku lakukan untuk mengusir rasa yang kita sebut saja jenuh. Sesuatu yang sangat aneh, yang mulai muncul dan ini adalah hal yang sangat...